Profesional, sebuah kata serapan dari bahasa inggris yang berartikan sebagai berikut: "Professional adalah seseorang yang menawarkan jasa atau layanan sesuai dengan protokol dan peraturan dalam bidang yang dijalaninya dan menerima gaji sebagai upah atas jasanya.(wikipedia bahasa indonesia)." lalu marilah kita beranjak ke masalah utama "Menjadi pustakawan profesional" apakah diartikan demikian, ya bisa kita jadikan tolak ukur, namun sebenarnya menjadi pustakawan profesional tidak selalu digambarkan dengan pegawai yang tertib terhadap peraturan kerja (datang tepat waktu, melayani apa adanya, tidak pernah izin kerja, rajin merapikan buku, dan sederet gambaran lain-lain) Memang benar demikian gambarannya, namun sebetulnya kita hampir melupakan aturan main, tata kromo (koyo orang jawa bilang), yap! tata krama, "apa hubungannya? tata krama yang saya maksud disini menyangkut masalah "Pelayanan Publik", khususnya pengunjung perpustakaan. Ingatkah saudara dengan opini orang-orang barat dulu: "orang indonesia dikenal dengan keramah-tamahannya, mungkin agak berbeda dengan orang-orang Barat atau Timur, yang agak terkesan cuek. Lalu saudara beranggapan "not at all!" benar! tidak semua orang indonesia bertata krama dengan baik. Namun alangkah lebih baiknya jika kita menanamkan nilai leluhur kita yang dulu, jangan sampai terjebak dengan dunia yang kemodern-modern'an. "Satu Nusa-Satu Bangsa satu bahasa kita" bukankah demikian? maka dari itu, marilah kita bersama-sama menjaga nilai budaya kita yang pernah diwarisi para leluhur kita semua.
Pertanyaannya, "pelayanan publik yang seperti apa?". Meningkatkan pelayanan publik tentu akan mempengaruhi jumlah pengunjung, singkatnya saya sebagai seorang mahasiswi tak jarang mendengar opini seorang yang mengatakan demikian "duh, males banget masuk perpustakaan, belumlah masuk ke ruangan, sudah ngadepin pustakawan yang mukanya ditekuk 10"walaah-walah..( nepok jidat), lalu ada lagi "tuh pustakawan gak ramah banget sih, cemberut aja," kira-kira seperti inilah anggapan beberapa pengamat. Ternyata secara diam-diam mereka menilai gerak-gerik Para Pustakawan ini, meski mungkin tidak menyampaikan opininya secara langsung. Sejauh pengamatan saya, beberapa perpustakaan yang pernah saya kunjungi tidak menyediakan Kotak Saran, nah inilah yang terlewatkan, tentu saja tergantung dengan inisiatif pihak ybs (perpus tsb). Begitulah kira-kira gambaran dari saya. Semoga Bermanfa'at :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar