aaaa! seperti itulah kira-kira gambaran hati saya,sebelum menonton film ini, awalnya sempet gak terlalu tertarik untuk menontonnya, eh gatau kenapa tiba* rasa penasaran muncul di benak, nah maksa-maksa gue untuk nonton ini film. Singkat cerita, kami nyampe ke bioskop 21 Palembang Square, nunggu hampir setengah jam, akhirnya! kami masuk ke ruang bioskop. Be! ya be! karna cuma kami ber2 yang ngisi tempat itu, gak terlalu rame, tapi rada-rada serem juga..
nunggulah beberapa menit akhirnya film ini ditayangkan hehe :D dan akhirmya lama-lama makin banyak walaupun ga terlalu rame yang nonton.
tokoh utama di film ini ya iya, kakak kita yang cantik, Revalina S Temat, ialah putri dari pasangan sayuti Temat(melayu-Palembang) dan ibunya Racmaniar(minang) eh! ada nyangkut-nyangkut palembang niih. Meskipun kak Reva sendiri gak lahir di Palembang, tapi di Jakarta 26 nov 1985(sekarang 29 tahun). Cantik natural menurut saya pribadi. Okelah fokus ke pembahasan, di awal nonton film ini kita langsung diboyong ke persiapan acara nikah antara ra(reva) dan dewa(ibnu jamil). Ra tidak menyangka bahwasanya si dewa ini berterus terang perihal hubungan gelapnya dengan wanita lain, meskipun dewa bergeming bahwa ia tidak mencintai wanita tsb. Dan dewa jujur bahwa wanita tsb hamil! haa!. Disanalah rasa kecewa ra thd dewa bergejolak, ya iya sebagai seorang wanita yang normal, siapa yang tidak sakit hati. Singkat cerita akhirnya ra memiliki kesempatan untuk kerja di Beijing, asyiknya ia bertemu dengan sahabat karibnya sekar (laudya c bella), ia meninggalkan semua perasaan kecewanya di tanah air. Di perjalanan menjajaki kota Beijing, bertemulah ia dengan seorang laki-laki berdarah tanah ginseng tsb namanya cung one, sebelum cung one pergi ia memberikan ra sebuah buku sejarah tentang Ashima(putri beijing) dan gak aneh, si cung one ini memanggil asmara dengan sebutan ashima cieeeee :o . Dalam kesempatan yang berbeda, asma bertemu dengan cung one yang tidak sendiri, ternyata cung one adalah seorang gaet(pemandu wisata), cung one bukanlah laki-laki kaya atau bangsawan. Ia seorang laki-laki yang sederhana. Akhirnya cung one berkeinginan menemani asma mengelilingi objek wisata terkenal di Beijing, datanglah mereka ke sebuah toko, ra memberikan peci untuk cung one, tapi saya kan bukan seorang muslim (cung one) tidak apa-apa kamu simpan saja (ra).
Cung one ingin mengajak ra kesebuah tempat, tempat yang mengisahkan cerita Ashima. Hanya orang istimewa-lah yang saya ajak kesana (cung one). Namun takdir berkata lain, belum sempat ra dan cung one mengunjungi tempat itu, rupanya ra mengalami serangan penyakit, pengentalan darah di otak (penyakit yang agak langka dan aneh), kadang serangan jantung. Akhirnya ra dibawa ke tanah air untuk menjalankan perawatan intensif. Hari-hari cung one terasa hambar setelah kepulangan ra ke tanah air. Tibalah saat dimana sekar mengunjungi ra ke tempat tinggalnya, sekar melihat pesan cung one di email ra, sekar secara diam-diam membalas pesan dari cung one, sampai akhirnya sekar dan suami beserta cung one mendatangi asma di kediamannya. Disanalah rasanya gemuruh tangis menepuk-nepuk pelupuk mata, cung one mendapati asma yang tidak bisa melihat lagi! asma mengalami serangan kebutaan mata karna penyakit itu. Namun cung one membawa berita lain, ia telah mendapatkan hidayah menjadi seorang mualaf. Wah! Akhirnya, Cung One ingin meng-Khitbah ra, meskipun kondisi ra tidak memungkinkan, cung one yakin ia bisa menuntun ra menuju surga-Nya. Subhanallah so sweet...! film ini mengisahkan bagaimana mencintai seseorang dari sisi yang berbeda, bukankah sangat jarang manusia mencintai pasangannya tanpa sebuah sebab, ya! sebab cung one mencintai ra, karena ia yakin bersama ra ia dapat meniti menuju Surga-Nya, sebuah film yang diangkat dari sebuah novel karya Asma Nadia, memberikan kesan bahwa film ini tidak terkesan romantis yang berlebihan, sepertinya mbak asma nadia, berusaha mengemas suatu cerita dengan background yang sederhana namun sarat makna, semangat buat mbak Asma Nadia. semoga bermanfa'at!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar