Jumat, 09 Januari 2015

Mengapa Sulit menjadi Orang Baik seutuhnya?

Sontak saya berfikir selama ini keliling demi menemukan apakah jawabannya, tak gampang, butuh sebuah pemahaman. Pemahaman yang benar-benar membenam dalam jiwa. Meskipun saya bukanlah seorang Psikotest, namun bukankah setiap seorang pakar ilmu mulanya belajar secara ilmiah, lalu apa beda dengan saya yang sama-sama memiliki sistem otak, meski rupanya entah bagaimana, yang terpenting adalah Rasa ingin tahu yang tinggi. yap! mari kita semua kembali fokus terhadap masalah utama, "Mengapa-sulit-menjadi-orang baik-Seutuhnya?". Orang baik, menurut asumsi saya pribadi, orang baik adalah orang bertingkah laku sebagaimana mestinya, ia berusaha untuk tidak menyakiti orang lain, dalam bentuk bagaimanapun, orang baik selalu berusaha tunduk kepada peraturan yang berlaku. Tentu saja, sifat baik yang melekat pada dirinya terkadang bukan bawa'an sejak ia lahir, ataupun karena keturunannya saja, melainkan menjadi baik baginya adalah sebuah Pilihan. Mari kita beralih kepada kontra, lalu pertanya'an muncul dari beberapa orang, "mengapa sulit menjadi orang baik seutuhnya?". Jawaban versi saya pribadi: sebelum lebih jauh, marilah kita renungkan secara seksama, "BAIK" apakah itu? apakah ia sebuah nilai/range/value atau apapun itu yang sifatnya mutlak? tentu saja jawabannya tidak, baik bukan merupakan predikat yang hanya bisa kita raih di bangku sekolah, lalu timbul masalah, "untuk mencapainya tidak harus secara alamiah, bisa saja secara buatan?" (eh, kayak penelitian aja) ya, seperti yang kita tau, dizaman yang modern ini, pendidikan di Indonesia mengalami penurunan. Penurunan di bidang apa?, penurunan di bidang mutu pendidikan. Pemerintah sebaiknya memberikan tinjauan intensif terhadap lembaga pendidikan di Indonesia, Ingatkah kita semua dengan bait ini" Mencerdaskan Kehidupan Bangsa" yang merupakan salah satu cita-cita nasional Indonesia Merdeka, all right? poin emasnya, mari kita bubuhkan Pendidikan Karakter dalam mencapai mutu pendidikan secara maksimal.
        Marilah kita memecahkan masalah utama diatas, jadilah seseorang yang mampu berfikir secara kritis, mampu membaca situasi, mampu membaca pikiran orang lain, dalam kitab suci Al-Qur'an sudah diperintahkan dalam surat Al-Alaq ayat pertama yang berbunyi, "iqro bismirobbikallazi holak.." (bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang menciptakan). Menjadi orang baik sesungguhnya tidak sulit, tergantung dimana sifat baik itu menumpang. Jika ia menumpang pada jiwa yang risau, maka yang akan ditemukan sesudahnya adalah kerisauan, berbeda dengan orang lemah yang ingin berubah entah secara cepat atau lambat. Lalu jika sifat itu menumpang pada jiwa yang Damai, maka sebesar apapun rintangannya tidak akan ada orang yang mampu meruntuhkan sifat itu. Ia yang memiliki sifat sabar, pemaaf, tidak membesar-besarkan masalah, mengharap Keridho'an Allah semata bukan lainnya, maka ialah yang menang, menang melawan hawa nafsu. Setan teramat sangat senang hinggap pada jiwa yang risau, mudah dirasuki, tak punya benteng dalam hidupnya (tiang agama), mudah terpancing emosinya(seakan orang lain sangat berperan penting demi kemarahannya), suka mencela orang lain, merasa sombong(lalai kepada sifat Allah yang Esa) maka ialah oranr-orang yang merugi. Kira-kira seperti inilah pemahaman saya. Marilah kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan (fastabiqul bil khoirot), baiknya saudara-saudariku sekalian mengartikan baik secara dinamis bukan statis. Agar saudara/i tidak pesimis menjadi yang baik, cukuplah Allah yang tahu Amal perbuatan kita, janganlah ia menjadi riya'. Yang terpenting, barengi sifat baik itu dengan rasa Ikhlash, sabar, pemurah, penyayang, pema'af dan sifat" baik yang dimiliki para pendahulu kita, Nabi Muhammad saw, beserta para sahabat*nya. Janganlah hilang 1 diantaranya, maka ia takkan stabil. Usahalah untuk melawan hawa nafsu bagaimanapun caranya, marah tidak mendamaikan jiwa, marah tidak membuat kita menang, marah tidak membuat kita hebat. Justru bersabar adalah pintu kedamaian. Semoga bermanfa'at :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar